Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi

Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi (Lukas 10:25-28)
Pdt.Johanes Lilik Susanto

“Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” (Lukas 10:28). Perbuatan yang dimaksud Tuhan Yesus adalah yang seperti dikatakan oleh ahli Taurat di ayat 27 “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Pertanyaannya apakah ada orang yang bisa mengasihi Tuhan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan dan segenap akal budi?Jawabnya tidak ada yang bisa karena kita semua lahir dalam dosa. Pemazmur berkata “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” (Mazmur 51:7).

Dosa sudah menginfeksi seluruh bagian hidup kita. Dengan kondisi seperti ini, meskipun kita tidak berbuat apa-apa yang jahat kita tetap dapat hukuman. Jadi sebenarnya tidak ada orang yang bisa memperoleh hidup kekal dengan berbuat baik.

Satu-satunya jalan untuk memperoleh hidup kekal, kita harus datang pada Yesus agar dilahirkan kembali dalam Roh Kudus dengan benih Firman Allah. Karena yang lahir dari daging adalah daging, yang lahir dalam Roh adalah roh.

Di Lukas 10:27 dan Matius 22:36-40, menunjukkan Tuhan Yesus tidak membatalkan perintah moral di taurat. Yang dihapuskan adalah ritual-ritual yang sudah digenapi oleh Tuhan Yesus.

Prinsip Taurat terdiri dari 2 loh batu, yaitu “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” dan “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Setelah kita didalam Yesus Kristus, kita harus menggenapi Firman Allah ini dengan kekuatan Roh Kudus dan dengan iman.

Di Matius 22:37 “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”, Tuhan Yesus mengutip dari Ulangan 6:5 “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Jika kita bandingkan Matius 22:37 dengan Ulangan 6:5, Tuhan Yesus menambahkan untuk menekankan aspek akal budi, yang sebenarnya merupakan bagian dari jiwa.

Alkitab melihat manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu” (1 Tesalonika 5:23). Allah bekerja aktif menguduskan roh, jiwa dan tubuh kita, kita posisinya pasif. Mengapa Allah harus menguduskan roh, jiwa dan tubuh kita? Karena bukan saja tubuh tetapi roh dan jiwa kita sudah tercemar dalam dosa.

Tuhan menciptakan manusia dari dua substansi yaitu debu tanah dan nafas hidup, “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kejadian 2:7). Sebagai makhluk yang hidup kita punya tiga fungsi yaitu tubuh, jiwa dan roh.

Kesadaran diri kita terletak di roh, jiwa atau tubuh? Kesadaran kita terletak di roh & jiwa, karena roh dan jiwa sebenarnya adalah satu kesatuan, sehingga kita hanya punya satu kesadaran, karena itu kita menyebut diri kita sebagai “saya” bukan “kami”

“Kasihilah Tuhan, Allahmu,

  • dengan segenap hatimu (kardia) dan
  • dengan segenap jiwamu (psuchē) dan
  • dengan segenap kekuatanmu (ischus) dan
  • dengan segenap akal budimu (dianoia).” (Lukas 10:27)

I. Dengan segenap hatimu (kardia)
Segenap hati adalah segenap roh. Kata hati dalam bahasa Ibrani adalah rûach.

“Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu (lêbâb) dan dengan segenap jiwamu (nephesh) dan dengan segenap kekuatanmu.“ (Ulangan 6:5)

“Dengan segenap jiwa (nephesh) aku merindukan Engkau pada waktu malam, juga dengan sepenuh hati (rûach) aku mencari Engkau pada waktu pagi.” (Yesaya 26:9)

Hati (lêbâb / rûach / kardia) adalah bagian dari manusia non material yang terdalam yang tidak terkait dengan tubuh yang material.

Penggunaan kata rûach dalam Perjanjian Lama terkait dengan 3 hal utama – yang menjelaskan tentang roh:

  • Tentang kontemplasi, refleksi dan merenung, yang merupakan fungsi roh. Kontemplasi adalah diri kita merenungkan tentang diri kita sendiri.
  • Terkait dengan perasaan batin kita: pemberani atau penakut.
  • Berkaitan dengan perasaan untuk memahami orang atau lingkungan secara intuitif yang tidak terkait dengan panca indra. Misalnya ketika kita masuk satu rumah bisa merasakan adem, damai atau panas.

II. Dengan segenap jiwa (nephesh)
Jiwa adalah bagian roh yang terkait dengan tubuh. Ada bagian roh yang tidak terkait langsung dengan tubuh, yang tadi kita sebut sebagai rûach.

Sifat jiwa karena terkait dengan tubuh, tidak transenden. Tetapi roh yang tidak terkait langsung dengan tubuh, sifatnya bisa menjadi transenden, melampaui tubuh kita. Contoh kita bisa mengerti secara roh walaupun tidak mengindra secara langsung. Kalau jiwa, kita harus mengindra dulu baru bisa mengerti.

Iman terletak dalam roh (rûach/ hati), bukan jiwa, sehingga iman tidak boleh diombang ambingkan oleh panca indra atau pengalaman kita.

Kalau kita menaruh iman di jiwa, kita akan diombang ambingkan oleh kelemahan daging atau lingkungan yang berubah-rubah.

Mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa artinya kita harus mengasihi Tuhan dengan memiliki paradigma yang benar, melihat dunia seperti Tuhan Yesus melihat. Paradigma (world view) adalah kumpulan nilai-nilai, kepercayaan, pengetahuan kebenaran yang kita hidupi sehari-hari.

Mengasihi Tuhan dengan seluruh jiwa kita, artinya kita mengasihi Tuhan dengan memakai akal budi, perasaan, dan kemauan kita bagi Tuhan. Contohnya ketika kita bernyanyi, main musik, kita lakukan dengan penghayatan, tetapi jangan lupa roh kita juga ikut bernyanyi.

III. Dengan segenap kekuatanmu (ischus)
Kekuatan (ischus) adalah semua kemampuan baik fisik atau bukan – yaitu semua yang kita punya: waktu, tenaga, bakat, harta, kepandaian, rumah, alat musik, kendaraan dan sebagainya.

Mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan artinya mengasihi Tuhan dengan segenap yang kita punya.
IV. Dengan segenap akal budimu (dianoia)
Mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi artinya kita perlu mengenal Allah dengan benar, belajar Alkitab.

Sebetulnya mengasihi Tuhan dengan segenap akal budi sudah termasuk dalam mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa.

Share: