“Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku”

“Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku” (Ayub 13:15)
Ev. Ayny Hastuti

Ayub adalah buku misteri mengapa dikatakan Tuhan sendiri sebagai orang yang benar yang tidak bercela, mengalami penderitaan & kesulitan yang belum pernah dialami manusia disepanjang sejarah.

Kisah Ayub ini seakan-akan padarox dengan janji Tuhan di Mazmur 91 yaitu semua orang yang benar pasti dijaga & diberkati oleh Tuhan.

Atas ijin Tuhan, satu per satu berkat yang diterima Ayub dari Tuhan diambil oleh iblis. Setelah semuanya diambil iblis, di Ayub 2:10 tertulis “Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.”

Sampai di pasal 3, Ayub mulai protes & complian untuk segala kepahitannya dengan sikap yang benar dan perasaan yang jujur, “Sesudah itu Ayub membuka mulutnya dan mengutuki hari kelahirannya.” (Ayub 3:1)

Di pasal 4 s/d 37, Ayub membela diri terhadap nasehat dari ketiga temannya, Elifas, Bildad, Zofat.

Ketika Elifas menasehatkan Ayub untuk koreksi diri apakah ada kesalahan yang disembunyikan, Ayub menjawab kalau dia tidak melakukan kesalahan dihadapan Tuhan, tetapi Tuhan seakan-akan sedang memperlakukan Ayub tidak fair, “Ah, hendaklah kiranya kekesalan hatiku ditimbang, dan kemalanganku ditaruh bersama-sama di atas neraca! Maka beratnya akan melebihi pasir di laut;” (Ayub 6:2&3)

Di Ayub 13:15, terdapat perbedaan dalam terjemahannya, yaitu:
TB: “Lihatlah, Ia hendak membunuh aku, tak ada harapan bagiku, namun aku hendak membela peri lakuku di hadapan-Nya.”
RSV:’Behold, he will slay me; I have no hope; yet I will defend my ways to his face.”

Berbeda dengan:
NKJV: “Though He slay me, yet will I trust Him. Even so, I will defend my own ways before Him.” dan
NIV: “Though he slay me, yet will I hope in him; I will surely defend my ways to his face.”

RSV menterjemahkan “I have no hope” sedangkan NIV menterjemahkan “I hope in Him”, tapi di NIV ada catatan kaki “I have no hope yet, yet I will”. Jadi terjemahan mana yang tepat?

Kalau kita lihat dari konteksnya, maka terjemahan yang lebih tepat adalah yang seperti terjemahan Indonesia: “tak ada harapan bagiku”. Karena di pasal 13, konteksnya Ayub mulai protes dan sedang membela diri dihadapan Tuhan namun dia tahu kalau dari prespektif Tuhan, Ayub tidak dapat melawan Tuhan sehingga dia mengatakan “tak ada harapan bagiku”.

Di Ayub 23:3-9, Ayub merasa sepertinya Allah itu absen. “Sesungguhnya, kalau aku berjalan ke timur, Ia tidak di sana; atau ke barat, tidak kudapati Dia, di utara kucari Dia, Ia tidak tampak, aku berpaling ke selatan, aku tidak melihat Dia.” (Ayub 23:8&9).

Namun kalau kita lihat di pasal 1, sebenarnya Allah justru sangat memperhatikan Ayub “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” (Ayub 1:8).

Setelah sekian lama Ayub bergumul, akhirnya di pasal 38 s/d 42, Tuhan berbicara pada Ayub secara pribadi, megatakan betapa Tuhan sangat menghargai Ayub, “Maka dari dalam badai TUHAN menjawab Ayub” (Ayub 39:1).

Dari perjalanan pergumulan Ayub, kita dapat menarik pelajaran:
Seperti Ayub, dalam keadaan apapun meskipun kita merasa seakan-akan Tuhan itu absen, Tuhan tetap memperhatikan & menghargai kita dan Tuhan mau bicara secara pribadi pada kita.
Sama seperti Ayub, pergumulan kita yang dimulai dengan “tak ada harapan bagiku” (Ayub 13:15) juga harus sampai pada puncaknya, yaitu sampai pada ayat “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ayub 42:5)

Meskipun kita tidak semenderita Ayub, tapi sudahkah kita sampai pada puncaknya pergumulan kita yaitu, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”

Hal ini sejalan dengan visi CHC, yaitu menjadi mempelai Kristus, didalam segala kesuitan & penderitaan, mata kita tetap memandang pada Tuhan.

Akhir kisah Ayub, di Ayub 42:10 “TUHAN memulihkan keadaan Ayub,… dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.”

Share: