Kemerdekaan Kristen

Kemerdekaan Kristen (1 Petrus 2:1-16)
Pdt.Johanes Lilik Susanto

“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah: (1 Petrus 2:16)

Di 1 Petrus 2:16 ada dua kata yang seakan-akan kontradiksi atau paradox yaitu “Hiduplah sebagai orang merdeka” dengan hiduplah sebagai hamba Allah”.

Hal paradox ini seperti Ikan. Selama ikan ada di dalam aquarium, dia bebas, tetapi jika ikan itu ingin bebas keluar dari aquarium, akan mati. Ikan itu kebebasannya didalam air. Ikan itu diperbudak air, karena ikan tidak dapat hidup diluar air. Sama seperti kita hidup didalam atmosfir bumi. Secara natural kita bebas didalam atmosfir bumi, sekaligus diperbudak oleh atmosfir bumi.

Kita diciptakan dalam Yesus Kristus sehingga kebebasan kita ada didalam Yesus Kristus dan kita menjadi hamba Yesus Kristus. Selama kita menjadi hamba Yesus Kristus, maka kita menikmati kebebasan yang paling penuh. Keluar dari Kristus kita malah mati.

Martin Luther melihat kebebasan manusia yang diperoleh didalam Kristus sering disalah gunakan, pada saat itu kaum petani dan buruh yang menginginkan kebebasan melebihi apa yang Kristus berikan. Mereka mau bebas dari penguasa & pemerintahan yang sah. Luther memakai Firman Allah di 1 Petrus 2:13&14, bahwa kemerdekaan dalam kekristenan itu adalah kemerdekaan didalam hukum yang memerdekaan, yaitu Firman Allah.

“Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.” (1 Petrus 2:13&14)

Kemerdekaaan Kristen harus dipahami dengan benar, yaitu:
(1) Dosa itu membelenggu, bahkan membunuh kita.
(2) Kemerdekaan itu dikerjakan oleh Kristus, bukan usaha kita.
(3) Kita harus menggunakan kemerdekaan dengan bertanggung jawab dengan menjadi hamba Allah.
(4) Orang yang telah dimerdekkan Kristus buahnya hidup kudus.

(1) Dosa itu membelenggu, bahkan membunuh kita.
“Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” (Yohanes 8:34)

Blaise Pascal (1623-1662) mengatakan ada dua dosa yang sangat mengikat kita yaitu kesombongan dan hawa nafsu. Hawa nafsu mengikat kita sampai kita tidak bisa lepas dari dunia ini, contohnya hobi bola, judi bola, alkohol, shopping, dosa seks dan sebagainya.

“Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.” (Efesus 2:2)

Di Efesus 2:2 ini menjelaskan bahwa dibelakang semua dosa yang diikuti oleh jalan dunia ini, ada penguasanya yaitu roh-roh di udara (angkasa). Semua dosa ada penguasa kegelapannya. Ikatan dosa tidak bisa luput dari pekerjaan iblis. Nafsu orang itu dicambuk oleh iblis, dibangkitkan supaya semakin terikat lagi dengan dosa. Dari perbuatan dosa sekali sekali berkembang menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan berkembang menjadi kebutuhan. Dari kebutuhan menjadi kerasukan, dan akhirnya dibunuh dengan tipu daya iblis.

Ada setan dibalik semua dosa, tapi banyak orang tidak sadar ada penguasanya sebaliknya merasa bebas padahal diikat oleh setan. Tangan kita terbelenggu dan kita tidak bisa melepaskan diri dari iblis. Misalnya dosa pronografi, dosa ngintip, dosa telepon seks, dosa masturbas adalah akar dari dosa perzinahan yang besar.

(2) Kemerdekaan itu dikerjakan oleh Kristus, bukan usaha kita.
“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” (Yohanes 8:36)

Kristus memerdekaan kita dengan pertama-tama menghancurkan iblis yang menunggangi dosa kita lalu mengusirnya dari hidup kita. Setelah itu kita dilepaskan oleh darah Kristus dan disucikan dari pekerjaan-pekerjaan iblis itu.

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Galatia 5:1)

Di Galatia 5:1 menjelaskan kalau kita yang sudah dimerdekakan oleh Kristus masih bisa jatuh lagi dalam dosa, masih bisa kena kuk perhambaan lagi. Ketika kita sudah dimerdekakan, setan itu sudah tahu kelemahan kita dan akan selalu mencari kesempatan yang baik untuk menyerang kita. Kalau kita membuka diri dengan kembali kepada dosa yang lama dan menjadi kebiasaan lagi, setan bisa masuk lagi. Setan yang masuk kedua kalinya itu bawa tujuh temannya (Lukas 11:26). Setan yang masuk ketiga kalinya, masing-masing membawa tujuh temah jadi 48 setan. Artinya kalau sudah dilepaskan Kristus, kita masuk lagi kedalam kuk perhambaan, keadaan kita semakin parah.

Kuk itu bentuknya seperti gandar yang dikenakan sapi. Iblis yang berdiri diatas kuk itu sambil memecut kita agar kita lebih bernafsu dan rusak dalam dosa.

Bagaimana caranya agar kita tidak dikenakan kuk perhambaan lagi? Kita harus selalu waspada dan melawan setan dengan bersandar pada Kristus.

(3) Kita harus menggunakan kemerdekaan dengan bertanggung jawab dengan menjadi hamba Allah.
“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah: (1 Petrus 2:16)

Pada saat sudah dipulihkan, kita dalam kondisi merdeka. Kita harus menggunakan kemerdekaan ini untuk menjadi hamba Allah karena kita paling bebas ketika menjadi hamba Allah, sama seperti ikan yang bebas paling maksimal ketika ada didalam air.

“Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum.” (Yudas 1:4)

Di Yudas 1:4 memberi tahu banyak orang-orang yang menyalah-gunakan kemerdekaannya untuk kembali memuaskan hawa nafsunya sehingga terancam binasa. Orang-orang tersebut telah menyelusup ditengah-tengah kita. Kebebasan kita adalah kasih karunia Allah. Kita jangan menyalah gunakan kasih karunia Allah

(4) Orang yang telah dimerdekkan Kristus buahnya hidup kudus.
“Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” (Roma 6:22)

Buah dari kemerdekaan adalah hidup kudus. Dan buah hidup kudus adalah hidup yang kekal. Tidak mungkin ada hidup kekal tanpa hidup yang kudus.

Share: